Sabtu, 13 Maret 2010 - 07:02:42 WIBTeknik MR Angiografi
Diposting oleh : Ahmad Hariri
Kategori: MRI - Dibaca: 620 kali

MRA bukanlah prosedur yang dapat berdiri sendiri dan perannya tidak dapat dipisahkan dari pemeriksaan imejing lain seperti ultrasonografi (USG), CT angiography (CTA), MRI dan conventional angiography (CA). “Gold standard” untuk berbagai manifestasi penyakit penyakit vaskuler adalah CA, suatu prosedur yang invasif, mahal dan mengandung resiko tinggi.
Tujuan pemeriksaan MRA adalah menggambarkan pembuluh darah dalam konfigurasi yang serupa dengan gambaran CA.
Teknik dasar pemeriksaan MRA adalah “black-blood” dan “bright-blood” sesuai dengan gambaran pembuluh darah yang tampil pada pemeriksaan MRI konvensional. Dua mekanisme utama yang menentukan tampilan signal intravaskuler adalah “high velocity signal loss” (wash out effect) dan “flow related enhancement” (inflow effect atau entry phenomen), yang kemudian mendasari teknik bright blood MRA yaitu time of flight (TOF) dan phase contrast (PC).
TOF menggunakan mekanisme flow related enhancement, menggambarkan proton-proton yang memasuki suatu ruang. Dalam hal ini darah yang mengalir tampak “terang” dan jaringan lunak yang stasioner serta darah yang tertahan dalam suatu ruang untuk jangka waktu lama akan terlihat “gelap”. PC mengaplikasikan flow-encoding gradient, aliran darah dibedakan dari jaringan stasioner dengan menggunakan velocity-induced phase shifts, darah tampak terang karena bergerak dengan latar belakang jaringan lunak yang gelap. Bayangan gambar kemudian diproses dengan menggunakan algoritma Maximum Intensity Projection (MIP), Shaded Surface Display (SSD), atau Multi Planar Reformations (MPR), yaitu dengan pemilihan target rekonstruksi untuk menyisihkan struktur yang tidak diperlukan keluar dari area terpilih hingga didapatkan separasi pembuluh darah.
Suatu teknik modifikasi yang disebut MOTSA (multiple overlapping thin slab acquisition) atau sequential 3D TOF mengkombinasikan teknik 2D dan 3D TOF MRA.
Teknik multislab tidak banyak dipengaruhi oleh saturasi aliran, sehingga menghasilkan visualisasi pembuluh darah yang lebih baik.
Pemeriksaan MRA dengan pemberian kontras intravena (CE-MRA) memberi keuntungan dengan menampilkan anatomi pembuluh darah yang lebih detil serta mengurangi artefak. Pemberian kontras Gd-DTPA juga akan memperjelas gambaran struktur vena serta pembuluh-pembuluh darah kecil.
Untuk pemeriksaan MRA seluruh tubuh diperlukan kontras intravena dan teknik CE 3D MRA yang merupakan pilihan pada saat ini.
3 D TOF MRA memberikan resolusi spatial tinggi dengan waktu pemeriksaan yang relatif singkat. Prosedur ini dilakukan untuk visualisasi penyakit-penyakit pembuluh darah otak yang memerlukan pemeriksaan cepat. 3 D TOF MRA dapat memperlihatkan dinding arteri yang tampak gelap serta plak atau thrombus pada dinding dan lumen arteri. 3 D TOF MRA tidak sensitif untuk aliran pada bagian distal tetapi sensitif untuk jaringan dengan T1 rendah (perdarahan intraparenkim) yang akan menunjukkan intensitas signal tinggi pada 3 D TOF menyerupai aliran darah sehingga menyulitkan diagnosis.
2 D TOF MRA sensitif untuk aliran darah yang lambat, dan pada pasien-pasien yang kurang kooperatif, sequential 2 D TOF akan lebih mudah dinterpretasikan. 2 D TOF MRA jarang digunakan untuk pemeriksaan pembuluh darah yang tortuous.
Phase-contrast MRA sangat sensitif pada aliran darah yang lambat dan memberikan supresi intensitas signal terbesar pada bayangan latar belakang. Keterbatasan teknik ini adalah waktu pemeriksaan yang relatif panjang serta dipengaruhi pulsasi pembuluh darah.

- Pentingnya Peranan Radiologi dalam Deteksi dan Pengobatan Kanker Hati Primer
- Studi Kontras Brain Cancer dengan Magnetik Resonansi Spektroskopi
- Infeksi Saluran Kemih
- Buku Saku Gastro Enteriologi
- Aplikasi Sinar-X Untuk Dunia Kedokteran
- Kontras Radiografi
- Rekonstruksi Image CT Scan
- Mutu Citra Medik
- CTMS Fraktur Vertebrae
- MRI Lutut
Isi Komentar :




Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 
